Pejalan, nasibmu kini!

by - 2:48:00 PM

Dok Pribadi
Beberapa waktu lalu terbersit keinginan untuk menulis tentang "menjadi" seorang pejalan, memiliki hobi jalan2, punya banyak waktu untuk pergi sebentar maupun dalam waktu yang lama. Faktor pendorong salah satunya tayangan Jejak Petualang di Trans 7 beberapa tahun lalu patut saya garis bawahi, pembawa acara mampu menarik penontonnya untuk berlama-lama nongkrong tanpa peduli materi sajian tayangan tersebut. Lain halnya tulisan menarik Bumi Manusia yang berhasil saya selesaikan dalam seminggu menambah ketertarikan saya tuk menjelajahi setiap sudut kota.

Enak ya jalan2 terus? Pertanyaan basabasi, tak penting. Mana ada jalan2 nggak enak, ya enak lha. Traveling—it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” begitu kata mutiara Ibn Batutah yang jadi andalan pejalan demi terwujudnya seorang pencerita dalam jiwanya, real storyteller tentang apa yang memang dan sebenarnya mereka alami di perjalanan.

Keputusan menjadi seorang pejalan gak terpatri hanya dalam semalam, menemukan kecintaan terhadap sesuatu semuanya membutuhkan proses. Nggak bisa menghakimi temen yang nggak suka jalan tidak mencintai alam Indonesia, nggak mungkin memaksakan keluarga besar untuk mengisi libur lebaran liburan ke pantai karena (pasti) menyenangkan. Bagi saya, asumsi sempit tersebut terlalu dipaksakan.

Pernah disemprot anggota keluarga? Saya pernah. Mengajukan saran dan pendapat sih boleh asal jangan egois begitu kelakarnya. Memang, menyeragamkan hobi, kesenangan dan kecintaan akan sesuatu merupakan sebuah hal yang sulit, karena perbedaan di lingkungan kita merupakan suatu keniscayaan.

 "Wah, banyak duitnya jalan2 terus" Oh no, bagi sebagian pejalan bisa jadi sebuah penghinaan. Tak sedikit teman yang saya kenal memiliki latar belakang ekonomi kurang subur, sering bokek dan hidup ala kadarnya. Tapi, semangatnya saat menerima ajakan pergi jalan2 seolah membuat dompetnya otomatis terisi penuh. Kok bisa? Bagi saya bisa aja, toh setiap orang memiliki pengalaman, kisah dan perjuangan yang berbeda. Dari mana kita bisa menebak pundi-pundi rezeki datang, kecuali durian runtuh di kebun belakang kasat mata bisa disaksikan.

Lanjut, receh pun kalau dikumpulkan bakalan banyak juga. Tak sedikit teman yang rela nabung buat jalan, konsekuensinya jatah belanja dan ngemilnya harus dikurangi. Inget, itu konsekuensi berdasar keputusan pribadi, bukan ranah kalian buat nyinyir. "Kok segitunya ya pengen jalan2? Makan aja dikurang2in". Stop it.

Jualan kaos oblong, eh ini bener. Berapaan sih harga produksi kaos, belum biaya sablon, promosi dan kirim ke kota pemesan. Paling ya untungnya nggak seberapa, lima ribuan kali untungnya. Coba aja dipikir, kalau saja lima ribu dikali 100 biji kaos udah berapa duit?

Banyak jalan menuju Roma, bisa naik pesawat, kapal laut atau unta sekalipun. Maksud saya, jalan2 secara praktik bisa dilakukan dengan banyak pertimbangan dari segi pengalaman, luasnya informasi hingga perencanaan yang matang. Duit bisa dicari, pastinya jika ada kemauan kuat.

Pernah teman saya tersinggung karena kehidupan jalan2nya diusik sebagian orang, yang ngabisin duit ortu lah, yang hura2 dan nggak tau diri lah. Sebagai teman, saya ikutan nggak terima dong. Tapi, secara nalar bisa saja pengusik itu memiliki rasa iri atau dengki, baik secara personal atau karena kebutuhan jalan2nya gagal terpenuhi.

Toh, nggak cuma pasangan yang bisa dicemburui. Kehidupan sosial juga tak luput dari unsur kecemburuan dengan ragam alasan. Nggak perlu menghindar, cukup dinikmati saja. Saya mengerti jawabannya setelah dua tahun berselang, orang yang pernah nyinyir dengan lantang sebegitu nggak pentingnya saya ndaki gunung semeru, sebegitu nggak mutunya saya camping di ranukumbolo, hanya buang2 waktu dan pada akhirnya, dengan bangganya ia mengunggah foto di Facebook saat berhasil tiba di puncak Semeru dengan kalimat sesumbar "Akhirnya aku menjejakkan kaki di atas puncak tertinggi pulau Jawa 3676Mdpl".


Damn!!!





You May Also Like

0 komentar